
Ilustrasi Pola Hidup Mahasiswa (Sumber: Canva)

Oleh: Fitria Noviani *
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu kelompok manusia yang berada
dalam masa usia produktif adalah mahasiswa; ini adalah periode penting dalam
kehidupan manusia yang penuh dengan kesulitan, perubahan, dan kebutuhan. Masa
perkuliahan bukan hanya proses pembelajaran akademik; itu juga merupakan tahap
penting menuju kedewasaan intelektual, sosial, dan emosional. Selama periode
waktu ini, diharapkan mahasiswa dapat membangun karakter, memperkuat
prinsip-prinsip kemandirian, dan mencapai potensi terbaik mereka. Namun, pada
kenyataannya, tahap ini juga sangat rentan terhadap perubahan pola hidup,
terutama karena tekanan dan dinamika yang kuat di kampus. Pola hidup mahasiswa
yang tidak seimbang antara kebutuhan sosial, kesehatan pribadi, dan prestasi
akademik sering menyebabkan penurunan kualitas hidup.
Mahasiswa seringkali terjebak dalam
rutinitas harian yang sangat padat dan melelahkan karena kesibukan dan tuntutan
akademik yang berat. Untuk bertahan hidup, mereka harus menghadiri kelas,
menyelesaikan tugas, bergabung dengan organisasi, dan bahkan bekerja paruh
waktu. Kesehatan pribadi sering terabaikan dalam situasi stres. Banyak mahasiswa
memilih pola hidup yang praktis dan cepat, seperti makan makanan instan, kurang
tidur, dan tidak berolahraga. Meskipun ini terjadi secara bertahap, pola hidup
ini pasti membentuk pola hidupyang buruk dan bahkan dapat menjadi kebiasaan
yang sulit diubah dalam jangka panjang.
Fenomena ini menunjukkan perubahan pola
hidup yang signifikan di kalangan remaja, terutama mahasiswa. Kepraktisan dan
efisiensi biasanya menjadi prioritas utama, tanpa mempertimbangkan efek
kesehatan jangka panjang. Makanan cepat saji dianggap menghemat waktu dan
tenaga, meskipun kurangnya gizi. Sebaliknya, begadang, terutama menjelang
tenggat waktu tugas atau ujian, sudah biasa. Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan
tersebut berdampak pada kesehatan fisik mahasiswa, termasuk kelelahan jangka
panjang, penurunan kekebalan tubuh, dan risiko penyakit metabolik. Mereka juga
berdampak pada kesehatan mental mereka.
Faktanya, kehidupan perkuliahan juga
menyebabkan stres psikologis yang tidak dapat dihindari. Mahasiswa dihadapkan
pada ekspektasi tinggi untuk berprestasi dari keluarga, dosen, dan diri mereka
sendiri. Di tengah banyaknya perubahan dan ketidakpastian, mereka harus
beradaptasi dengan lingkungan baru, menjalin hubungan sosial, dan menemukan
identitas mereka sendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut
dapat menyebabkan masalah seperti stres, kecemasan, atau bahkan depresi. Sangat
mudah bagi mahasiswa untuk mengambil pola hidup yang buruk seperti mongonsumsi
rokok dan terlalu banyak kafein, menghabiskan perangkat elektronik hingga larut
malam, atau bahkan menghindari orang lain.
Hal tersebut membuktikan bahwa pola hidup
yang buruk berdampak besar pada kualitas hidup mahasiswa. Pola hidup yang tidak
teratur tidak hanya mengurangi daya tahan tubuh dan kebugaran Anda, tetapi juga
menyebabkan Anda menjadi kurang fokus dalam belajar, lebih produktif, dan tidak
stabil secara emosional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu
prestasi akademik dan meningkatkan risiko seperti depresi, kecemasan, dan stres
serta gangguan kesehatan mental lainnya. Ironisnya, meskipun mayoritas mahasiswa
menyadari pentingnya menerapkan pola hidup yang sehat, mereka tetap sulit
melakukannya secara teratur karena keterbatasan waktu, kekurangan dukungan
lingkungan, dan kekurangan fasilitas dan pendidikan yang cukup. (Caamaño-Navarrete
et al., 2024)
Bahwa kondisi menjadi lebih buruk karena
faktor-faktor dari luar, seperti kekurangan akses ke fasilitas olahraga dan
makanan sehat, kurangnya kampanye kesehatan di kampus, dan kekurangan layanan
pendampingan psikologis. Karena dianggap memerlukan banyak waktu, usaha, dan
biaya, pola hidup yang sehat seringkali tidak diprioritaskan. Universitas dan
lembaga pendidikan tinggi sangat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan
kampus yang mensupport pola hidup yang sehat. Mereka dapat melakukannya
dengan menyediakan fasilitas, program pendidikan, dan bantuan pribadi untuk mahasiswa.
(Saintila et al., 2024).
Permasalahan ini sangat kompleks, penting
untuk mempelajari penyebab utama Pola hidup yang buruk mahasiswa, sebagaimana
hal itu memiliki dampak terhadap kesehatan fisik dan mental, serta solusi apa
pun yang dapat ditawarkan untuk mendorong perubahan. Esai ini berangkat dari
keprihatinan terhadap keadaan saat ini dan bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat, memberikan kesempatan untuk berpikir kritis, dan
memberikan ide-ide yang dilaksanakan sebagai pijakan dalam peningkatan pola
hidup mahasiswa. Diharapkan mahasiswa dapat membangun pola hidupyang lebih
seimbang, produktif, dan sehat secara jasmani maupun rohani dengan memahami
akar masalah dan membuat strategi preventif dan kuratif yang tepat.
ISI
Karakteristik Pola hidup Mahasiswa yang Buruk
Kehidupan kampus yang dinamis, cepat, dan
penuh tuntutan sangat memengaruhi pola hidup mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa
cenderung mengabaikan kesehatan mereka dalam rutinitas sehari-hari karena lingkungan
kampus mereka menuntut waktu dan tenaga yang efisien. Hal ini tercermin dari
sejumlah pola hidup yang secara umum dianggap buruk, tetapi ironisnya telah
menjadi kebiasaan yang biasa bagi mahasiswa perguruan tinggi.
Pola makan yang berantakan serta kekurangan
nutrisi adalah termasuk ciri yang paling umum. Makan sarapan adalah waktu
penting untuk memulai hari dengan energi, tetapi banyak mahasiswa
melewatkannya. Mereka sering menghindari sarapan dan lebih memilih untuk
bergantung pada makanan cepat saji dan instan karena kesibukan akademik,
keterbatasan waktu, dan rasa malas untuk membuat makanan yang sehat. Selama
setiap hari, Anda juga harus mengonsumsi banyak gula, garam, dan lemak.
Makanan cepat saji seperti mi instan,
gorengan, minuman manis dalam kemasan, dan makanan lain dipilih karena praktis
dan mudah diakses. Disebabkan kurangnya konsumsi serat dari buah dan sayuran,
pola konsumsi ini pasti tidak seimbang dan kekurangan gizi. Pola makan seperti ini, menurut Zhang
(2025), sangat berisiko menyebabkan sindrom metabolik, obesitas, dan berbagai
penyakit jangka panjang lainnya. Ini terutama berlaku selama waktu yang lama
tanpa pengaturan nutrisi yang tepat. (Zhang,
2025)
Mahasiswa
tidak hanya makan makanan yang buruk, mereka juga kurang berolahraga. Sebagian
besar aktivitas mahasiswa dilakukan sambil duduk, seperti menghadiri kelas,
mengerjakan tugas, dan berselancar di media sosial. Kebiasaan lama duduk
termasuk dalam kategori pola hidup tidak bergerak, yang dalam beberapa
penelitian disebut sebagai salah satu faktor risiko utama untuk gangguan
kesehatan metabolik dan kardiovaskular. Seringkali, aktivitas fisik ringan
seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga lainnya tidak diberi prioritas
karena dianggap mengganggu jadwal atau tidak penting. Namun, kurangnya aktivitas fisik
menyebabkan penurunan kebugaran tubuh dan daya tahan sistem imun, yang pada
gilirannya meningkatkan risiko infeksi dan kelelahan jangka panjang. (Anuar et
al., 2021)
Tidak cukup tidur dan kualitas tidur yang
buruk adalah masalah lain yang menyertai Pola hidup yang buruk mahasiswa. Mahasiswa
sering mengalami pola tidur yang berantakan. Mereka sering begadang untuk
menyelesaikan tugas akademik, menonton film, bermain media sosial, atau sekadar
berbicara hingga larut malam. Di lingkungan mahasiswa, aktivitas ini sering
dianggap wajar, atau bahkan menjadi budaya tidak tertulis. Namun, tidur yang
buruk berdampak buruk pada kesehatan secara keseluruhan.
Proses pemulihan sel-sel tubuh, konsolidasi ingatan, dan pengaturan hormon yang mengatur nafsu makan, metabolisme, dan emosi semua bergantung pada tidur yang cukup. Hal ini menekankan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan gangguan kognitif, gangguan konsentrasi, daya ingat, dan ketidakstabilan emosional mahasiswa. Termasuk kurang tidur juga meningkatkan risiko yaitu gangguan mental, obesitas, dan penyakit metabolisme dalam jangka panjang. (Caamaño-Navarrete et al., 2024)
Kecenderungan untuk mencoba perilaku
berisiko seperti merokok dan konsumsi alcohol adalah ciri Pola hidup
yang buruk lainnya yang sering diamati oleh mahasiswa. Tekanan pergaulan, juga
dikenal sebagai tekanan teman, beban akademik yang berat, kurangnya kontrol
diri, dan kurangnya pengelolaan stres adalah beberapa penyebab kebiasaan ini.
Pada awalnya, kebiasaan ini mungkin muncul sebagai pelampiasan atau upaya menyesuaikan
diri dengan lingkungan baru. Namun, sebagian besar waktu, perilaku tersebut
berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Bahwasanya konsumsi rokok dan alcohol
dalam jangka panjang berbahaya bagi paru-paru, hati, dan sistem saraf pusat
dalam melakukan tugas penting. Selain itu, kebiasaan ini sering menyebabkan
masalah kesehatan fisik dan masalah kesehatan mental, yang sudah terpengaruh
oleh pola hidup yang buruk lainnya. (Yadav et
al., 2024)
Oleh karena itu, Pola hidup yang buruk mahasiswa
terdiri dari empat elemen utama: (1) makan yang buruk serta kekurangan gizi,
(2) minimnya aktivitas fisik, (3) gangguan pola tidur, dan (4) kecenderungan
untuk berperilaku berisiko, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Dalam
membentuk pola hidupyang merugikan kesehatan dan produktivitas mahasiswa,
keempat elemen ini saling bergantung dan saling mendukung. Pola hidup seperti
ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius bagi kesehatan
individu dan kualitas generasi muda secara umum jika tidak ada kesadaran
kolektif dan intervensi yang tepat.
Dampak Pola hidup yang buruk
terhadap Kesehatan Fisik
Mahasiswa memiliki efek negatif pada
kesehatan fisik mereka dalam jangka pendek dan jangka panjang karena Pola hidup
yang buruk yang mereka ikuti. Mengingat mahasiswa berada dalam usia produktif,
masa perkuliahan seharusnya menjadi waktu yang ideal untuk mempertahankan dan
meningkatkan kebugaran fisik. Namun, justru pada usia ini banyak orang mulai
mengembangkan kebiasaan buruk yang dapat menjadi penyebab utama berbagai
penyakit tidak menular (PTM). Berbagai gangguan kesehatan yang semakin
meningkat pada usia muda termasuk mahasiswa disebabkan pola tidur yang tidak teratur,
pola hidupyang buruk, dan tidak berolahraga.
Meningkatnya risiko PTM seperti hipertensi,
diabetes mellitus tipe 2, obesitas, dan jantung koroner adalah salah satu efek
paling nyata dari pola hidup yang buruk. Menurut Saintila (2024), prevalensi
PTM di usia produktif secara signifikan meningkat sebagai akibat dari pola
makanan kaya kalori tetapi tidak bernutrisi dan minim aktivitas fisik. Mahasiswa
yang jarang berolahraga dan mengonsumsi makanan cepat saji secara teratur
berisiko mengalami tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan akumulasi
lemak tubuh. Penyakit ini berkembang secara bertahap dan tidak menunjukkan
gejala awal, sehingga banyak orang baru mengetahuinya ketika penyakitnya
menjadi lebih parah. (Saintila et
al., 2024)
Sistem kekebalan tubuh seseorang juga
dipengaruhi oleh pola hidupyang tidak seimbang. Faktor-faktor yang mengganggu
fungsi sistem imun termasuk kurang tidur, tekanan akademik yang berlebihan, dan
kurang nutrisi. Tubuh mahasiswa lebih rentan terhadap infeksi seperti flu,
batuk, dan infeksi saluran pernapasan atas dalam situasi seperti ini. Shao et
al. (2021) menyatakan bahwa mahasiswa yang mengalami gangguan imunologis lebih
sering mengalami penyakit menular ringan yang dapat dicegah oleh sistem
kekebalan yang kuat. Ini terjadi karena mereka mengonsumsi makanan yang tidak
bergizi dan memiliki kualitas tidur yang buruk. (Shao et
al., 2021)
Tabel 1. Contoh Kebiasaan Buruk Mahasiswa dan Dampaknya
|
Kebiasaan Buruk |
Dampak Fisik |
Dampak Mental |
|
Melewatkan sarapan |
Gula darah tidak stabil |
Konsentrasi menurun |
|
Begadang |
Penurunan sistem imun |
Meningkatkan stres dan kecemasan |
|
Makan junk food |
Risiko obesitas dan gastritis |
Merasa cepat lelah dan tidak fokus |
|
Kurang olahraga |
Lemak tubuh meningkat, otot
melemah |
Gejala depresi meningkat |
Dampak lain yang sangat umum di antara mahasiswa
adalah kelelahan kronis. Tidak hanya lelah secara fisik, kelelahan ini juga
berdampak pada kesehatan mental dan emosional karena tekanan tugas akademik
yang tak henti-hentinya, pola tidur berantakan, serta stress berkepanjangan. Mahasiswa
mengalami kelelahan sepanjang hari, kehilangan fokus, dan penurunan
produktivitas karena tubuh mereka tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Selain itu, gangguan pencernaan seperti konstipasi (sembelit) dan gastritis
(radang lambung) juga bisa terjangkit dikarenakan pola hidup yang berantakan contohnya
konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat.
Bahwa mahasiswa yang mengonsumsi makanan
berminyak dan jarang makan sayuran berisiko mengalami masalah saluran
pencernaan, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kualitas hidup yang
buruk. (Sitorus,
2021). Tidak kalah penting, masalah
muskuloskeletal juga disebabkan oleh kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang
aktivitas fisik.
Gangguan seperti nyeri di leher, punggung, dan persendian penyebabnya karena pola tubuh yang salah ketika duduk di depan laptop selama berjam-jam. Maka dari itu gangguan ini disebabkan oleh tekanan berulang pada bagian tubuh tertentu dan kelemahan otot penyangga akibat kurangnya latihan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan tulang belakang, seperti skoliosis ringan atau postur tubuh yang tidak ideal, selain menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan dalam jangka panjang. (Permatasari, 2017)
Secara umum, Pola hidup yang buruk mahasiswa
berdampak pada kesehatan fisik mereka sebagai akibat dari mengumpulkan
kebiasaan buruk, yang seringkali dianggap sepele. Daya tahan tubuh berkurang
sebagai dampak pada pola makan yang berantakan, kurang gerak, tidur larut
malam, tekanan mental yang berlebihan, dan gangguan pada sistem kardiovaskular,
sistem muskuloskeletal, dan sistem endokrin. Jika masalah ini tidak segera
ditangani, hal itu berpotensi seperti menurunkan kualitas hidup mahasiswa,
menurunkan prestasi akademik mereka, dan bahkan meningkatkan beban kesehatan
masyarakat.
Oleh karenanya, pentingnya mahasiswa dan
institusi untuk memahami bahwa menjaga kesehatan fisik adalah hal penting untuk
sukses dalam belajar dan berkembang. Kesadaran tentang urgentnya pola
hidup yang sehat harus terus ditingkatkan agar mahasiswa dapat menikmati kuliah
dengan tubuh, pikiran, dan semangat yang ideal.
Dampak Pola hidup yang buruk
terhadap Kesehatan Mental dan Sosial
Pola hidup yang buruk memengaruhi kesehatan
mental dan sosial mahasiswa selain berdampak pada kesehatan fisik mereka. Mahasiswa
menghadapi berbagai tantangan emosional dan psikologis dalam kehidupan kampus
yang penuh tekanan termasuk kewajiban akademik, ekspektasi keluarga, dan
kesulitan beradaptasi diri dengan tempat baru. Mahasiswa berisiko mengalami
gangguan emosional jika kesulitan ini tidak diimbangi dengan pola hidup yang
mendukung kesehatan mental.
Salah satu penyebab utama stres dan
gangguan mental adalah tekanan akademik yang tinggi di kalangan mahasiswa.
Tugas yang berat, ujian yang ketat, dan persaingan akademik dapat menyebabkan
kecemasan yang berlarut-larut. Hal ini diperparah oleh ekspektasi tinggi dari
orang tua dan lingkungan sosial di mana mahasiswa dimotivasi untuk tampil
sempurna dan berprestasi setiap saat.
Mereka mengalami tekanan mental yang lebih
besar saat menjalani pola hidup yang buruk disebabkan oleh kurangnya tidur,
makanan yang kurang seimbang, dan kurangnya aktivitas fisik. Sistem hormonal
tubuh mengalami gangguan, terutama hormon kortisol, yang bertanggung jawab atas
respons stres. Bahwa pola hidup pasif dan kurang tidur meningkatkan kadar
kortisol, yang meningkatkan kecemasan dan stres jangka panjang mahasiswa. (Aldi et
al., 2023)
Gambar 2. Ilustrasi Stres dan Kecemasan pada Mahasiswa
Selain itu, ketidakseimbangan dalam pola
hidup berdampak pada kualitas hidup emosional yang lebih rendah. Rutinitas yang
buruk cenderung menyebabkan gangguan mood, penurunan motivasi, dan menarik diri
dari lingkungan sosial. Mereka juga cepat lelah secara emosional, mudah
tersinggung, dan sulit menjalin interaksi sosial yang sehat. Banyak kali, itu
berkembang menjadi depresi ringan hingga sedang, yang jika tidak ditangani
dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan seseorang. Hal ini menunjukkan
bahwa mahasiswa yang menjalani pola hidup buruk memiliki memiliki kondisi
mental yang lebih buruk dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti kebiasaan
sehat, seperti melakukan aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan mengonsumsi
makanan yang kaya nutrisi. (Ramadianto
et al., 2022)
Pola hidup yang buruk juga berakibat
negatif pada kesehatan mental mahasiswa. Kondisi fisik dan mental yang ideal
sangat penting untuk fungsi otak, terutama dalam hal daya ingat, konsentrasi,
dan pemecahan masalah. Mahasiswa mengalami penurunan fungsi kognitif karena
kurang tidur, stres jangka panjang, dan kekurangan nutrisi. Akibatnya, mereka
mengalami kesulitan untuk memahami informasi, tetap fokus saat belajar, dan
mempertahankan ingatan jangka pendek. Maka penurunan kapasitas kognitif ini
benar-benar berdampak pada kinerja akademik mahasiswa, yang ditandai dengan
penurunan nilai, penundaan penyelesaian studi, dan munculnya perasaan tidak
mampu yang memperburuk kondisi psikologis mereka. (Fita
Kumala, 2018)
Pola hidup yang buruk dapat mengganggu
interaksi sosial mahasiswa. Mahasiswa kesulitan menjalin hubungan interpersonal
yang sehat karena kelelahan yang berlebihan, mood yang buruk, dan kecenderungan
untuk menarik diri. Mereka sering menghindari kegiatan sosial, tidak aktif
dalam organisasi, dan menjauhkan diri dari teman sebaya. Hal ini dapat
menyebabkan kesepian, kehilangan rasa memiliki, dan penurunan dukungan sosial
yang seharusnya dapat mengurangi stres. Pada akhirnya, kehidupan sosial yang
tidak seimbang memperburuk kesehatan mental mahasiswa dan menciptakan lingkaran
masalah yang susah diputuskan.
Maka dengan itu, pola hidup yang buruk
memiliki banyak efek terhadap kesehatan mental dan sosial mahasiswa. Mahasiswa
adalah kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan mental karena tekanan
emosional, gangguan hormonal, dan kekurangan dukungan sosial. Hubungan sosial,
kemampuan akademik, dan kualitas hidup secara keseluruhan semuanya terpengaruh
oleh gangguan kesehatan mental. Maka pentingnya memahami bahwa menjaga
kesehatan fisik dan mental sama pentingnya, dan keduanya harus didukung oleh pola
hidup yang seimbang, sehat, dan berkelanjutan.
Faktor Pemicu Pola hidup Mahasiswa
yang Buruk
Pola hidup mahasiswa dipengaruhi oleh
banyak variabel yang saling berhubungan, seperti beban akademik, pengaruh
sosial, dan lingkungan kampus. Meskipun sebagian besar mahasiswa menyadari
pentingnya menjaga kesehatan, faktanya menunjukkan bahwa banyak di antara
mereka malah menjalani pola hidup yang buruk. Ini bukan hanya karena kurangnya
pengetahuan, tetapi karena banyak penyebab yang secara langsung maupun tidak
langsung mendorong pola hidup yang buruk.
Sangat padatnya aktivitas akademik adalah
salah satu faktor utama yang mendorong mahasiswa untuk menjalani pola hidup buruk.
Jadwal kuliah yang penuh, tugas yang menumpuk, dan berbagai kegiatan organisasi
dan kerja paruh waktu adalah semua situasi yang sering dihadapi oleh mahasiswa.
Karena kondisi ini, mereka kesulitan mengatur waktu untuk beristirahat atau
berolahraga secara teratur. Pemicu utama dalam situasi seperti ini adalah
manajemen waktu yang buruk. Banyak mahasiswa akhirnya begadang untuk
menyelesaikan tugas, dan mereka cenderung makan makanan cepat saji atau instan
yang kurang nutrisi saat terburu-buru. Sitorus (2021) mengatakan makan yang buruk
dan kekurangan tidur merupakan gabungan yang sangat bahaya untuk kesehatan
fisik dan mental mahasiswa. (Sitorus,
2021)
Gambar
3. Penyebab Pola Hidup Buruk di Kalangan Mahasiswa
Selain itu, masalah lain adalah minimnya
kesadaran menjalani pola hidup yang teratur dalam jangka panjang. Selama mereka
merasa "baik-baik saja" secara fisik, banyak mahasiswa percaya bahwa
menjalani pola hidup yang sehat bukanlah prioritas utama. Mereka baru menyadari
pentingnya menjaga kesehatan setelah mengalami gejala penyakit, seperti
kelelahan, nyeri kepala, atau masalah pencernaan. Dalam kasus ini, pentingnya
menjaga kesehatan sering dinomorduakan, terutama ketika tidak ada gejala yang
jelas. Dampaknya banyak mahasiswa tidak mempertimbangkan kesehatan sebagai
investasi jangka panjang karena mereka cenderung mengabaikan pencegahan dan
hanya merespon saat masalah kesehatan muncul. (Rahman,
2023)
Pola hidup mahasiswa sangat tepengaruh oleh
lingkungan sosial. Lingkaran pertemanan dapat mempengaruhi cara seseorang
menjalani hidupnya dengan cara yang baik maupun buruk.. (Rahman,
2023) Dalam konteks mahasiswa, lingkungan yang
mempengaruhi kebiasaan begadang, mengonsumsi makanan yang buruk, dan kurangnya
perhatian terhadap aktivitas fisik dapat memperkuat dorongan untuk menjalani pola
hidup yang buruk. Misalnya, menjadi rutinitas yang tidak disadari untuk
nongkrong hingga larut malam dengan makanan yang penuh gula dan garam telah
berkembang menjadi kebiasaan. Jika mahasiswa mencoba menjalani pola hidup yang
sehat di lingkungan yang tidak sesuai, norma sosial tidak mendorong pola hidup
aktif, atau kebiasaan sehat bahkan dapat membuat mereka merasa terasing.
Pola hidup mahasiswa sangat dipengaruhi
oleh dukungan sekolah. Sayangnya, fasilitas kesehatan masih kurang di banyak
kampus. Sulit bagi mahasiswa untuk menerapkan pola hidup yang sehat secara
konsisten. Ini karena mereka tidak memiliki akses ke fasilitas olahraga, tidak
ada kantin sehat dengan makanan sehat, dan tidak ada konseling. Salah satu
hambatan terbesar bagi kesejahteraan mahasiswa adalah kurangnya dukungan
struktural dari kampus, baik dari segi infrastruktur maupun kebijakan. Padahal,
institusi memainkan peran strategis terhadap penciptaan lingkungan yang memperhatikan
kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan. (Galih
Dipta, Sari Permata Ningsing, 2025)
Secara keseluruhan, sebagian besar mahasiswa
menjalani pola hidup buruk. Mahasiswa sangat rentan terhadap kebiasaan hidup
yang buruk karena tekanan akademik, manajemen waktu yang buruk, kurangnya
kesadaran kesehatan, pengaruh sosial yang buruk, dan kurangnya dukungan
institusional. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan tindakan yang luas yang
mencakup perbaikan pola hidup setiap orang, menyediakan lingkungan kampus yang
mendukung, dan memberikan pendidikan berkelanjutan tentang pentingnya menjaga
kesehatan sejak dini.
Peran Mahasiswa dan
Institusi Pendidikan
Masyarakat akademik menghargai mahasiswa yang tidak hanya harus berprestasi akademik tetapi juga menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental. Institusi pendidikan, di mana mahasiswa memperoleh pengetahuan juga berperan besar dalam menciptakan pola yang mendorong pola hidup yang sehat. Kesadaran individu mahasiswa juga dukungan institusi pendidikan bekerja sama untuk menciptakan pola hidupyang lebih baik dan berkelanjutan.
Pertama, mahasiswa harus diposisikan
sebagai subjek aktif dalam perubahan pola hidup mereka. Artinya, mereka bukan
hanya menerima informasi, tetapi juga melakukan perubahan dengan menyadari
pentingnya kesehatan. Untuk mencapainya, diperlukan pendidikan yang
berkelanjutan tentang manfaat olahraga secara rutin, tidur waktu yang cukup,
dan konsumsi makanan yang sehat. Pendidikan ini dapat disampaikan dengan
berbagai cara, seperti kurikulum yang memasukkan elemen pola hidup yang sehat
dan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung. (Rohmah
et al., 2020) Hal tersebut seperti seminar tematik,
workshop interaktif, dan kampanye kesehatan bisa menjadi metode yang baik untuk
meningkatnya kesadaran mahasiswa tentang pentingnya pola hidupsehat.
Tabel 2. Strategi Intervensi Kampus untuk Mendorong Pola Hidup yang
Sehat
|
Intervensi Kampus |
Manfaat |
|
Menyediakan kantin sehat |
Memperbaiki asupan gizi mahasiswa |
|
Membangun pusat kebugaran |
Mendorong aktivitas fisik teratur |
|
Workshop manajemen stres dan waktu |
Mengurangi tekanan mental dan
meningkatkan fokus |
|
Aplikasi pemantauan pola hidup mahasiswa |
Membantu mahasiswa memantau
kesehatan harian |
Namun, sumber daya dan infrastruktur yang
memadai diperlukan untuk mendukung pendidikan. Sekolah memiliki kewajiban moral
dan struktural untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa
menjalani pola hidup yang sehat. Misalnya, menyediakan lapangan olahraga, ruang
olahraga, jalur jogging, dan area hijau akan membuat lebih mudah bagi mahasiswa
untuk berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Selain itu, keberadaan kantin di
kampus yang menawarkan makanan sehat dan murah merupakan faktor penting dalam
menciptakan kebiasaan makan yang lebih baik. Kemampuan untuk mendapatkan akses
ke fasilitas-fasilitas ini dapat meningkatkan keinginan mahasiswa untuk menjaga
kesehatan secara lebih teratur. (Bailey et
al., 2020)
Kesehatan mental mahasiswa juga merupakan
elemen penting yang sering diabaikan. Penting bagi lembaga pendidikan untuk
menyediakan layanan bimbingan konseling yang mudah diakses, ramah, dan bebas
stigma di tengah kehidupan kampus yang penuh tekanan akademik dan sosial.
Banyak mahasiswa menolak berkonsultasi dengan konselor karena khawatir mereka
akan dianggap lemah atau malu. Oleh karena itu, upaya normalisasi dan
penghapusan stigma kesehatan mental harus diiringi dengan penyediaan konseling.
Aksesibilitas dan pendekatan konseling yang empatik sangat membantu mahasiswa
mengatasi kecemasan, stres, dan masalah psikologis lainnya. (Cerolini et
al., 2023)
Peran komunitas mahasiswa lebih penting
daripada institusi dan individu. Organisasi atau komunitas mahasiswa yang
berfokus pada mendorong pola hidup yang sehat dapat membangun lingkungan sosial
yang baik serta saling support. (Ahorsu et
al., 2021) Dorongan kolektif dan contoh yang baik
dari teman sebaya membuat mahasiswa merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk
mengikuti kebiasaan hidup sehat di tempat seperti ini. Komunitas sosial dan
emosional yang sehat mendorong interaksi yang lebih bermakna dan meningkatkan
komitmen mahasiswa terhadap pola hidup yang positif.
Secara keseluruhan, institusi pendidikan dan mahasiswa sangat berperan dalam menciptakan pola hidup yang sehat. Meskipun mahasiswa harus tahu dan bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, institusi juga harus membuat lingkungan yang mendukung untuk mendukungnya. Diharapkan mahasiswa dapat menjalani kehidupan kampus yang seimbang, produktif, dan sehat jika ada sinergi antara pendidikan, fasilitas, layanan pendukung, dan komunitas yang sehat.
PENUTUP
Kesimpulan
Pola hidup yang buruk pada mahasiswa
merupakan isu kompleks yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Mahasiswa
sebagai generasi penerus bangsa harus menyadari bahwa kesehatan merupakan fondasi
utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam mencapai
keberhasilan akademik dan sosial. Kebiasaan buruk seperti konsumsi makanan
tidak bergizi, kurang tidur, tidak berolahraga, serta stres yang tidak dikelola
dengan baik, bila terus dibiarkan akan berdampak negatif seperti bom waktu yang
bukan hanya waktu jangka pendek, tetapi juga waktu jangka panjang.
Oleh karenanya, solusi terhadap
permasalahan ini tidak bisa bersifat sementara atau parsial. Diperlukan
pendekatan holistik yang melibatkan mahasiswa itu sendiri, institusi
pendidikan, keluarga, masyarakat, serta dukungan kebijakan dari pemerintah.
Pendidikan kesehatan harus ditanamkan sejak dini dan dikemas dengan cara yang
menarik serta relevan dengan kehidupan mahasiswa. Kampus sebagai rumah kedua
bagi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menyediakan
fasilitas, layanan, serta kebijakan yang menunjang penerapan pola hidup yang
sehat.
Lebih dari itu, penting untuk membangun
budaya hidup sehat sebagai norma sosial di lingkungan akademik. Jika pola hidup
yang sehat menjadi bagian dari identitas mahasiswa, maka perubahan positif akan
berlangsung secara berkelanjutan dan menular ke lingkungan yang lebih luas.
Dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang bugar, mahasiswa akan lebih siap
menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi secara optimal dalam pembangunan
bangsa. Investasi pada kesehatan mahasiswa hari ini bukan hanya menyelamatkan
individu dari risiko penyakit, tetapi juga menciptakan generasi yang unggul,
berdaya saing, dan memiliki kualitas hidup yang tinggi. Oleh karena itu, upaya
kolektif dan berkelanjutan dalam mengedukasi, memfasilitasi, dan membudayakan pola
hidup yang sehat harus menjadi prioritas bersama.
Saran
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental adalah langkah pertama menuju
perubahan pola hidup mahasiswa yang buruk. Diharapkan bahwa mahasiswa dapat
mengatur jadwal harian yang seimbang antara belajar, istirahat, makan, dan
berolahraga. Sekolah juga harus menyediakan sarana untuk mendukung pola hidup
yang sehat dan aktif, seperti kantin sehat, ruang olahraga, dan taman (Saintila et
al., 2024). Selain itu, untuk mendorong perubahan
perilaku yang lebih luas, pemerintah dan lembaga terkait harus membuat program
nasional yang berfokus pada kesehatan remaja dan mahasiswa secara berkelanjutan.
Salah satu cara inovatif untuk membantu mahasiswa
memantau diet, aktivitas fisik, dan jam tidur mereka sendiri adalah dengan
membuat aplikasi digital berbasis edukasi kesehatan. Tidak kalah penting,
penelitian lanjutan tentang manfaat intervensi berbasis kampus harus terus
dilakukan sebagai dasar untuk pembuatan kebijakan kesehatan di pendidikan
tinggi (Galih
Dipta, Sari Permata Ningsing, 2025).
DAFTAR PUSTAKA
Ahorsu, D. K., Sánchez Vidaña, D. I.,
Lipardo, D., Shah, P. B., Cruz González, P., Shende, S., Gurung, S.,
Venkatesan, H., Duongthipthewa, A., Ansari, T. Q., & Schoeb, V. (2021).
Effect of a peer‐led intervention combining mental health promotion with
coping‐strategy‐based workshops on mental health awareness, help‐seeking
behavior, and wellbeing among university students in Hong Kong. International
Journal of Mental Health Systems, 15(1), 1–10.
https://doi.org/10.1186/s13033-020-00432-0
Aldi, M., Alotaibi, A., &
Alsaadi, B. (2023). Perceived Stress among Healthcare Students and Its
Association with Anxiety and Depression: A Cross-Sectional Study in Saudi
Arabia. Healthcare (Switzerland), 11(11).
https://doi.org/10.3390/healthcare11111625
Anuar, A., Hussin, N. Z. M.
H. @, Maon, S. N., Hassan, N. M., Abdullah, M. Z., Mohd, I. H., & Sahudin,
Z. (2021). Physical Inactivity among University Students. International
Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 11(5).
https://doi.org/10.6007/ijarbss/v11-i5/9934
Bailey, C. P., Sharma, S.,
Economos, C. D., Hennessy, E., Simon, C., & Hatfield, D. P. (2020). College
campuses’ influence on student weight and related behaviours: A review of
observational and intervention research. Obesity Science and Practice, 6(6),
694–707. https://doi.org/10.1002/osp4.445
Caamaño-Navarrete, F.,
Saavedra-Vallejos, E., Guzmán-Guzmán, I. P., Arriagada-Hernández, C.,
Fuentes-Vilugrón, G., Jara-Tomckowiack, L., Lagos-Hernández, R.,
Fuentes-Merino, P., Alvarez, C., & Delgado-Floody, P. (2024). Unhealthy
Lifestyle Contributes to Negative Mental Health and Poor Quality of Life in
Young University Students. Healthcare (Switzerland), 12(22),
1–14. https://doi.org/10.3390/healthcare12222213
Cerolini, S., Zagaria, A.,
Franchini, C., Maniaci, V. G., Fortunato, A., Petrocchi, C., Speranza, A. M.,
& Lombardo, C. (2023). Psychological Counseling among University Students
Worldwide: A Systematic Review. European Journal of Investigation in Health,
Psychology and Education, 13(9), 1831–1849.
https://doi.org/10.3390/ejihpe13090133
Fita Kumala, K. A. (2018).
Orderliness predicts academic performance: Behavioural analysis on campus
lifestyle. Journal of the Royal Society Interface, 15(146).
https://doi.org/10.1098/rsif.2018.0210
Galih Dipta, Sari Permata
Ningsing, K. A. (2025). Student Satisfaction with University Facilities and
Services and its Impact on Academic Performance: A Study in Higher Education.
1–19. https://www.researchsquare.com/article/rs-6359552/v1
Permatasari, S. (2017).
Alloimmunization in thalassemia patients: New insight for healthcare. International
Journal of Preventive Medicine, 8.
https://doi.org/10.4103/ijpvm.IJPVM
Rahman, D. (2023). Analisis pola
hidup yang sehat mahasiswa olahraga. Jurnal Patriot, 5(3),
239–246. https://doi.org/10.24036/patriot.v5i3.1018
Ramadianto, A. S.,
Kusumadewi, I., Agiananda, F., & Raharjanti, N. W. (2022). Symptoms of
depression and anxiety in Indonesian medical students: association with coping
strategy and resilience. BMC Psychiatry, 22(1), 1–11.
https://doi.org/10.1186/s12888-022-03745-1
Rohmah, R. A., Pa Padja, R.
N., Dali, I. R., Liki, R., & Dangga, V. (2020). Campaign for Healthy Eating
and Physical Activity as Implementation of Health Promoting University. Berita
Kedokteran Masyarakat, 36(1), 9–15.
Saintila, J., Calizaya-Milla,
Y. E., Carranza-Cubas, S. P., Serpa-Barrientos, A., Oblitas-Guerrero, S. M.,
& Ramos-Vera, C. (2024). Body mass index and healthy lifestyle practices
among Peruvian university students: a comparative study among academic
discipline. Frontiers in Nutrition, 11(February), 1–13.
https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1361394
Shao, T., Verma, H. K.,
Pande, B., Costanzo, V., Ye, W., Cai, Y., & Bhaskar, L. V. K. S. (2021).
Physical Activity and Nutritional Influence on Immune Function: An Important
Strategy to Improve Immunity and Health Status. Frontiers in Physiology,
12(October). https://doi.org/10.3389/fphys.2021.751374
Sitorus, N. (2021). Pola
hidup yang sehat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Bandung. Jurnal
Ilmu Kesehatan Immanuel, 14(2), 55–62.
https://doi.org/10.36051/jiki.v14i2.129
Yadav, R., Khapre, M., D, D.,
& M, A. (2024). Prevalence of Unhealthy Lifestyles and Its Correlates Among
College-Going Students in Rishikesh, India: A Cross-Sectional Study. Cureus,
16(7). https://doi.org/10.7759/cureus.64713
Zhang, Y. (2025). Impact of
dietary habit changes on college students physical health insights from a
comprehensive study. Scientific Reports, 15(1), 1–15.
https://doi.org/10.1038/s41598-025-94439-7
***
*) Oleh: Fitria Noviani, Mahasiswi Farmasi Universitas Islam Indonesia.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi segapmedia.online.
***
**) Rubrik artikel di SEGAPMedia .Online terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi.segapmedia@gmail.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yuk tulis kesanmu setelah membaca tulisan di atas. Masukan, kritik, dan saran. Terima kasih. Salam literasi.