Dampak Pola Hidup Mahasiswa Yang Buruk Terhadap Kesehatan - SEGAP Media .Online | Students Media for Indonesia

Breaking


Rabu, 30 Juli 2025

Dampak Pola Hidup Mahasiswa Yang Buruk Terhadap Kesehatan

 

Ilustrasi Pola Hidup Mahasiswa (Sumber: Canva)


Oleh: Fitria Noviani *

Mahasiswi Farmasi Universitas Islam Indonesia

                                                                    PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu kelompok manusia yang berada dalam masa usia produktif adalah mahasiswa; ini adalah periode penting dalam kehidupan manusia yang penuh dengan kesulitan, perubahan, dan kebutuhan. Masa perkuliahan bukan hanya proses pembelajaran akademik; itu juga merupakan tahap penting menuju kedewasaan intelektual, sosial, dan emosional. Selama periode waktu ini, diharapkan mahasiswa dapat membangun karakter, memperkuat prinsip-prinsip kemandirian, dan mencapai potensi terbaik mereka. Namun, pada kenyataannya, tahap ini juga sangat rentan terhadap perubahan pola hidup, terutama karena tekanan dan dinamika yang kuat di kampus. Pola hidup mahasiswa yang tidak seimbang antara kebutuhan sosial, kesehatan pribadi, dan prestasi akademik sering menyebabkan penurunan kualitas hidup.


Mahasiswa seringkali terjebak dalam rutinitas harian yang sangat padat dan melelahkan karena kesibukan dan tuntutan akademik yang berat. Untuk bertahan hidup, mereka harus menghadiri kelas, menyelesaikan tugas, bergabung dengan organisasi, dan bahkan bekerja paruh waktu. Kesehatan pribadi sering terabaikan dalam situasi stres. Banyak mahasiswa memilih pola hidup yang praktis dan cepat, seperti makan makanan instan, kurang tidur, dan tidak berolahraga. Meskipun ini terjadi secara bertahap, pola hidup ini pasti membentuk pola hidupyang buruk dan bahkan dapat menjadi kebiasaan yang sulit diubah dalam jangka panjang.


Fenomena ini menunjukkan perubahan pola hidup yang signifikan di kalangan remaja, terutama mahasiswa. Kepraktisan dan efisiensi biasanya menjadi prioritas utama, tanpa mempertimbangkan efek kesehatan jangka panjang. Makanan cepat saji dianggap menghemat waktu dan tenaga, meskipun kurangnya gizi. Sebaliknya, begadang, terutama menjelang tenggat waktu tugas atau ujian, sudah biasa. Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan tersebut berdampak pada kesehatan fisik mahasiswa, termasuk kelelahan jangka panjang, penurunan kekebalan tubuh, dan risiko penyakit metabolik. Mereka juga berdampak pada kesehatan mental mereka.


Faktanya, kehidupan perkuliahan juga menyebabkan stres psikologis yang tidak dapat dihindari. Mahasiswa dihadapkan pada ekspektasi tinggi untuk berprestasi dari keluarga, dosen, dan diri mereka sendiri. Di tengah banyaknya perubahan dan ketidakpastian, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menjalin hubungan sosial, dan menemukan identitas mereka sendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat menyebabkan masalah seperti stres, kecemasan, atau bahkan depresi. Sangat mudah bagi mahasiswa untuk mengambil pola hidup yang buruk seperti mongonsumsi rokok dan terlalu banyak kafein, menghabiskan perangkat elektronik hingga larut malam, atau bahkan menghindari orang lain.


Hal tersebut membuktikan bahwa pola hidup yang buruk berdampak besar pada kualitas hidup mahasiswa. Pola hidup yang tidak teratur tidak hanya mengurangi daya tahan tubuh dan kebugaran Anda, tetapi juga menyebabkan Anda menjadi kurang fokus dalam belajar, lebih produktif, dan tidak stabil secara emosional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu prestasi akademik dan meningkatkan risiko seperti depresi, kecemasan, dan stres serta gangguan kesehatan mental lainnya. Ironisnya, meskipun mayoritas mahasiswa menyadari pentingnya menerapkan pola hidup yang sehat, mereka tetap sulit melakukannya secara teratur karena keterbatasan waktu, kekurangan dukungan lingkungan, dan kekurangan fasilitas dan pendidikan yang cukup. (Caamaño-Navarrete et al., 2024)


Bahwa kondisi menjadi lebih buruk karena faktor-faktor dari luar, seperti kekurangan akses ke fasilitas olahraga dan makanan sehat, kurangnya kampanye kesehatan di kampus, dan kekurangan layanan pendampingan psikologis. Karena dianggap memerlukan banyak waktu, usaha, dan biaya, pola hidup yang sehat seringkali tidak diprioritaskan. Universitas dan lembaga pendidikan tinggi sangat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kampus yang mensupport pola hidup yang sehat. Mereka dapat melakukannya dengan menyediakan fasilitas, program pendidikan, dan bantuan pribadi untuk mahasiswa. (Saintila et al., 2024).


Permasalahan ini sangat kompleks, penting untuk mempelajari penyebab utama Pola hidup yang buruk mahasiswa, sebagaimana hal itu memiliki dampak terhadap kesehatan fisik dan mental, serta solusi apa pun yang dapat ditawarkan untuk mendorong perubahan. Esai ini berangkat dari keprihatinan terhadap keadaan saat ini dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memberikan kesempatan untuk berpikir kritis, dan memberikan ide-ide yang dilaksanakan sebagai pijakan dalam peningkatan pola hidup mahasiswa. Diharapkan mahasiswa dapat membangun pola hidupyang lebih seimbang, produktif, dan sehat secara jasmani maupun rohani dengan memahami akar masalah dan membuat strategi preventif dan kuratif yang tepat.


ISI

Karakteristik Pola hidup Mahasiswa yang Buruk

Kehidupan kampus yang dinamis, cepat, dan penuh tuntutan sangat memengaruhi pola hidup mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa cenderung mengabaikan kesehatan mereka dalam rutinitas sehari-hari karena lingkungan kampus mereka menuntut waktu dan tenaga yang efisien. Hal ini tercermin dari sejumlah pola hidup yang secara umum dianggap buruk, tetapi ironisnya telah menjadi kebiasaan yang biasa bagi mahasiswa perguruan tinggi.


Pola makan yang berantakan serta kekurangan nutrisi adalah termasuk ciri yang paling umum. Makan sarapan adalah waktu penting untuk memulai hari dengan energi, tetapi banyak mahasiswa melewatkannya. Mereka sering menghindari sarapan dan lebih memilih untuk bergantung pada makanan cepat saji dan instan karena kesibukan akademik, keterbatasan waktu, dan rasa malas untuk membuat makanan yang sehat. Selama setiap hari, Anda juga harus mengonsumsi banyak gula, garam, dan lemak.


Makanan cepat saji seperti mi instan, gorengan, minuman manis dalam kemasan, dan makanan lain dipilih karena praktis dan mudah diakses. Disebabkan kurangnya konsumsi serat dari buah dan sayuran, pola konsumsi ini pasti tidak seimbang dan kekurangan gizi. Pola makan seperti ini, menurut Zhang (2025), sangat berisiko menyebabkan sindrom metabolik, obesitas, dan berbagai penyakit jangka panjang lainnya. Ini terutama berlaku selama waktu yang lama tanpa pengaturan nutrisi yang tepat. (Zhang, 2025)


Mahasiswa tidak hanya makan makanan yang buruk, mereka juga kurang berolahraga. Sebagian besar aktivitas mahasiswa dilakukan sambil duduk, seperti menghadiri kelas, mengerjakan tugas, dan berselancar di media sosial. Kebiasaan lama duduk termasuk dalam kategori pola hidup tidak bergerak, yang dalam beberapa penelitian disebut sebagai salah satu faktor risiko utama untuk gangguan kesehatan metabolik dan kardiovaskular. Seringkali, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga lainnya tidak diberi prioritas karena dianggap mengganggu jadwal atau tidak penting. Namun, kurangnya aktivitas fisik menyebabkan penurunan kebugaran tubuh dan daya tahan sistem imun, yang pada gilirannya meningkatkan risiko infeksi dan kelelahan jangka panjang. (Anuar et al., 2021)


                                             Gambar 1. Ilustrasi berbagai kebiasaan buruk

 

Tidak cukup tidur dan kualitas tidur yang buruk adalah masalah lain yang menyertai Pola hidup yang buruk mahasiswa. Mahasiswa sering mengalami pola tidur yang berantakan. Mereka sering begadang untuk menyelesaikan tugas akademik, menonton film, bermain media sosial, atau sekadar berbicara hingga larut malam. Di lingkungan mahasiswa, aktivitas ini sering dianggap wajar, atau bahkan menjadi budaya tidak tertulis. Namun, tidur yang buruk berdampak buruk pada kesehatan secara keseluruhan.


Proses pemulihan sel-sel tubuh, konsolidasi ingatan, dan pengaturan hormon yang mengatur nafsu makan, metabolisme, dan emosi semua bergantung pada tidur yang cukup. Hal ini menekankan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan gangguan kognitif, gangguan konsentrasi, daya ingat, dan ketidakstabilan emosional mahasiswa. Termasuk kurang tidur juga meningkatkan risiko yaitu gangguan mental, obesitas, dan penyakit metabolisme dalam jangka panjang. (Caamaño-Navarrete et al., 2024)


Kecenderungan untuk mencoba perilaku berisiko seperti merokok dan konsumsi alcohol adalah ciri Pola hidup yang buruk lainnya yang sering diamati oleh mahasiswa. Tekanan pergaulan, juga dikenal sebagai tekanan teman, beban akademik yang berat, kurangnya kontrol diri, dan kurangnya pengelolaan stres adalah beberapa penyebab kebiasaan ini. Pada awalnya, kebiasaan ini mungkin muncul sebagai pelampiasan atau upaya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, sebagian besar waktu, perilaku tersebut berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.


Bahwasanya konsumsi rokok dan alcohol dalam jangka panjang berbahaya bagi paru-paru, hati, dan sistem saraf pusat dalam melakukan tugas penting. Selain itu, kebiasaan ini sering menyebabkan masalah kesehatan fisik dan masalah kesehatan mental, yang sudah terpengaruh oleh pola hidup yang buruk lainnya. (Yadav et al., 2024)


Oleh karena itu, Pola hidup yang buruk mahasiswa terdiri dari empat elemen utama: (1) makan yang buruk serta kekurangan gizi, (2) minimnya aktivitas fisik, (3) gangguan pola tidur, dan (4) kecenderungan untuk berperilaku berisiko, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Dalam membentuk pola hidupyang merugikan kesehatan dan produktivitas mahasiswa, keempat elemen ini saling bergantung dan saling mendukung. Pola hidup seperti ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius bagi kesehatan individu dan kualitas generasi muda secara umum jika tidak ada kesadaran kolektif dan intervensi yang tepat.


Dampak Pola hidup yang buruk terhadap Kesehatan Fisik


Mahasiswa memiliki efek negatif pada kesehatan fisik mereka dalam jangka pendek dan jangka panjang karena Pola hidup yang buruk yang mereka ikuti. Mengingat mahasiswa berada dalam usia produktif, masa perkuliahan seharusnya menjadi waktu yang ideal untuk mempertahankan dan meningkatkan kebugaran fisik. Namun, justru pada usia ini banyak orang mulai mengembangkan kebiasaan buruk yang dapat menjadi penyebab utama berbagai penyakit tidak menular (PTM). Berbagai gangguan kesehatan yang semakin meningkat pada usia muda termasuk mahasiswa disebabkan pola tidur yang tidak teratur, pola hidupyang buruk, dan tidak berolahraga.


Meningkatnya risiko PTM seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, obesitas, dan jantung koroner adalah salah satu efek paling nyata dari pola hidup yang buruk. Menurut Saintila (2024), prevalensi PTM di usia produktif secara signifikan meningkat sebagai akibat dari pola makanan kaya kalori tetapi tidak bernutrisi dan minim aktivitas fisik. Mahasiswa yang jarang berolahraga dan mengonsumsi makanan cepat saji secara teratur berisiko mengalami tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan akumulasi lemak tubuh. Penyakit ini berkembang secara bertahap dan tidak menunjukkan gejala awal, sehingga banyak orang baru mengetahuinya ketika penyakitnya menjadi lebih parah. (Saintila et al., 2024)


Sistem kekebalan tubuh seseorang juga dipengaruhi oleh pola hidupyang tidak seimbang. Faktor-faktor yang mengganggu fungsi sistem imun termasuk kurang tidur, tekanan akademik yang berlebihan, dan kurang nutrisi. Tubuh mahasiswa lebih rentan terhadap infeksi seperti flu, batuk, dan infeksi saluran pernapasan atas dalam situasi seperti ini. Shao et al. (2021) menyatakan bahwa mahasiswa yang mengalami gangguan imunologis lebih sering mengalami penyakit menular ringan yang dapat dicegah oleh sistem kekebalan yang kuat. Ini terjadi karena mereka mengonsumsi makanan yang tidak bergizi dan memiliki kualitas tidur yang buruk. (Shao et al., 2021)

 

Tabel 1. Contoh Kebiasaan Buruk Mahasiswa dan Dampaknya

Kebiasaan Buruk

Dampak Fisik

Dampak Mental

Melewatkan sarapan

Gula darah tidak stabil

Konsentrasi menurun

Begadang

Penurunan sistem imun

Meningkatkan stres dan kecemasan

Makan junk food

Risiko obesitas dan gastritis

Merasa cepat lelah dan tidak fokus

Kurang olahraga

Lemak tubuh meningkat, otot melemah

Gejala depresi meningkat

 

Dampak lain yang sangat umum di antara mahasiswa adalah kelelahan kronis. Tidak hanya lelah secara fisik, kelelahan ini juga berdampak pada kesehatan mental dan emosional karena tekanan tugas akademik yang tak henti-hentinya, pola tidur berantakan, serta stress berkepanjangan. Mahasiswa mengalami kelelahan sepanjang hari, kehilangan fokus, dan penurunan produktivitas karena tubuh mereka tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Selain itu, gangguan pencernaan seperti konstipasi (sembelit) dan gastritis (radang lambung) juga bisa terjangkit dikarenakan pola hidup yang berantakan contohnya konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat.


Bahwa mahasiswa yang mengonsumsi makanan berminyak dan jarang makan sayuran berisiko mengalami masalah saluran pencernaan, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kualitas hidup yang buruk. (Sitorus, 2021). Tidak kalah penting, masalah muskuloskeletal juga disebabkan oleh kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang aktivitas fisik.


Gangguan seperti nyeri di leher, punggung, dan persendian penyebabnya karena pola tubuh yang salah ketika duduk di depan laptop selama berjam-jam. Maka dari itu gangguan ini disebabkan oleh tekanan berulang pada bagian tubuh tertentu dan kelemahan otot penyangga akibat kurangnya latihan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan tulang belakang, seperti skoliosis ringan atau postur tubuh yang tidak ideal, selain menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan dalam jangka panjang. (Permatasari, 2017)


Secara umum, Pola hidup yang buruk mahasiswa berdampak pada kesehatan fisik mereka sebagai akibat dari mengumpulkan kebiasaan buruk, yang seringkali dianggap sepele. Daya tahan tubuh berkurang sebagai dampak pada pola makan yang berantakan, kurang gerak, tidur larut malam, tekanan mental yang berlebihan, dan gangguan pada sistem kardiovaskular, sistem muskuloskeletal, dan sistem endokrin. Jika masalah ini tidak segera ditangani, hal itu berpotensi seperti menurunkan kualitas hidup mahasiswa, menurunkan prestasi akademik mereka, dan bahkan meningkatkan beban kesehatan masyarakat.


Oleh karenanya, pentingnya mahasiswa dan institusi untuk memahami bahwa menjaga kesehatan fisik adalah hal penting untuk sukses dalam belajar dan berkembang. Kesadaran tentang urgentnya pola hidup yang sehat harus terus ditingkatkan agar mahasiswa dapat menikmati kuliah dengan tubuh, pikiran, dan semangat yang ideal.


Dampak Pola hidup yang buruk terhadap Kesehatan Mental dan Sosial


Pola hidup yang buruk memengaruhi kesehatan mental dan sosial mahasiswa selain berdampak pada kesehatan fisik mereka. Mahasiswa menghadapi berbagai tantangan emosional dan psikologis dalam kehidupan kampus yang penuh tekanan termasuk kewajiban akademik, ekspektasi keluarga, dan kesulitan beradaptasi diri dengan tempat baru. Mahasiswa berisiko mengalami gangguan emosional jika kesulitan ini tidak diimbangi dengan pola hidup yang mendukung kesehatan mental.


Salah satu penyebab utama stres dan gangguan mental adalah tekanan akademik yang tinggi di kalangan mahasiswa. Tugas yang berat, ujian yang ketat, dan persaingan akademik dapat menyebabkan kecemasan yang berlarut-larut. Hal ini diperparah oleh ekspektasi tinggi dari orang tua dan lingkungan sosial di mana mahasiswa dimotivasi untuk tampil sempurna dan berprestasi setiap saat.


Mereka mengalami tekanan mental yang lebih besar saat menjalani pola hidup yang buruk disebabkan oleh kurangnya tidur, makanan yang kurang seimbang, dan kurangnya aktivitas fisik. Sistem hormonal tubuh mengalami gangguan, terutama hormon kortisol, yang bertanggung jawab atas respons stres. Bahwa pola hidup pasif dan kurang tidur meningkatkan kadar kortisol, yang meningkatkan kecemasan dan stres jangka panjang mahasiswa. (Aldi et al., 2023)

 

Gambar 2. Ilustrasi Stres dan Kecemasan pada Mahasiswa


Selain itu, ketidakseimbangan dalam pola hidup berdampak pada kualitas hidup emosional yang lebih rendah. Rutinitas yang buruk cenderung menyebabkan gangguan mood, penurunan motivasi, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka juga cepat lelah secara emosional, mudah tersinggung, dan sulit menjalin interaksi sosial yang sehat. Banyak kali, itu berkembang menjadi depresi ringan hingga sedang, yang jika tidak ditangani dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menjalani pola hidup buruk memiliki memiliki kondisi mental yang lebih buruk dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti kebiasaan sehat, seperti melakukan aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi. (Ramadianto et al., 2022)


Pola hidup yang buruk juga berakibat negatif pada kesehatan mental mahasiswa. Kondisi fisik dan mental yang ideal sangat penting untuk fungsi otak, terutama dalam hal daya ingat, konsentrasi, dan pemecahan masalah. Mahasiswa mengalami penurunan fungsi kognitif karena kurang tidur, stres jangka panjang, dan kekurangan nutrisi. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk memahami informasi, tetap fokus saat belajar, dan mempertahankan ingatan jangka pendek. Maka penurunan kapasitas kognitif ini benar-benar berdampak pada kinerja akademik mahasiswa, yang ditandai dengan penurunan nilai, penundaan penyelesaian studi, dan munculnya perasaan tidak mampu yang memperburuk kondisi psikologis mereka. (Fita Kumala, 2018)


Pola hidup yang buruk dapat mengganggu interaksi sosial mahasiswa. Mahasiswa kesulitan menjalin hubungan interpersonal yang sehat karena kelelahan yang berlebihan, mood yang buruk, dan kecenderungan untuk menarik diri. Mereka sering menghindari kegiatan sosial, tidak aktif dalam organisasi, dan menjauhkan diri dari teman sebaya. Hal ini dapat menyebabkan kesepian, kehilangan rasa memiliki, dan penurunan dukungan sosial yang seharusnya dapat mengurangi stres. Pada akhirnya, kehidupan sosial yang tidak seimbang memperburuk kesehatan mental mahasiswa dan menciptakan lingkaran masalah yang susah diputuskan.


Maka dengan itu, pola hidup yang buruk memiliki banyak efek terhadap kesehatan mental dan sosial mahasiswa. Mahasiswa adalah kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan mental karena tekanan emosional, gangguan hormonal, dan kekurangan dukungan sosial. Hubungan sosial, kemampuan akademik, dan kualitas hidup secara keseluruhan semuanya terpengaruh oleh gangguan kesehatan mental. Maka pentingnya memahami bahwa menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya, dan keduanya harus didukung oleh pola hidup yang seimbang, sehat, dan berkelanjutan.


Faktor Pemicu Pola hidup Mahasiswa yang Buruk


Pola hidup mahasiswa dipengaruhi oleh banyak variabel yang saling berhubungan, seperti beban akademik, pengaruh sosial, dan lingkungan kampus. Meskipun sebagian besar mahasiswa menyadari pentingnya menjaga kesehatan, faktanya menunjukkan bahwa banyak di antara mereka malah menjalani pola hidup yang buruk. Ini bukan hanya karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena banyak penyebab yang secara langsung maupun tidak langsung mendorong pola hidup yang buruk.


Sangat padatnya aktivitas akademik adalah salah satu faktor utama yang mendorong mahasiswa untuk menjalani pola hidup buruk. Jadwal kuliah yang penuh, tugas yang menumpuk, dan berbagai kegiatan organisasi dan kerja paruh waktu adalah semua situasi yang sering dihadapi oleh mahasiswa. Karena kondisi ini, mereka kesulitan mengatur waktu untuk beristirahat atau berolahraga secara teratur. Pemicu utama dalam situasi seperti ini adalah manajemen waktu yang buruk. Banyak mahasiswa akhirnya begadang untuk menyelesaikan tugas, dan mereka cenderung makan makanan cepat saji atau instan yang kurang nutrisi saat terburu-buru. Sitorus (2021) mengatakan makan yang buruk dan kekurangan tidur merupakan gabungan yang sangat bahaya untuk kesehatan fisik dan mental mahasiswa. (Sitorus, 2021)

 



Gambar 3. Penyebab Pola Hidup Buruk di Kalangan Mahasiswa

 

 

Selain itu, masalah lain adalah minimnya kesadaran menjalani pola hidup yang teratur dalam jangka panjang. Selama mereka merasa "baik-baik saja" secara fisik, banyak mahasiswa percaya bahwa menjalani pola hidup yang sehat bukanlah prioritas utama. Mereka baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan setelah mengalami gejala penyakit, seperti kelelahan, nyeri kepala, atau masalah pencernaan. Dalam kasus ini, pentingnya menjaga kesehatan sering dinomorduakan, terutama ketika tidak ada gejala yang jelas. Dampaknya banyak mahasiswa tidak mempertimbangkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang karena mereka cenderung mengabaikan pencegahan dan hanya merespon saat masalah kesehatan muncul. (Rahman, 2023)


Pola hidup mahasiswa sangat tepengaruh oleh lingkungan sosial. Lingkaran pertemanan dapat mempengaruhi cara seseorang menjalani hidupnya dengan cara yang baik maupun buruk.. (Rahman, 2023) Dalam konteks mahasiswa, lingkungan yang mempengaruhi kebiasaan begadang, mengonsumsi makanan yang buruk, dan kurangnya perhatian terhadap aktivitas fisik dapat memperkuat dorongan untuk menjalani pola hidup yang buruk. Misalnya, menjadi rutinitas yang tidak disadari untuk nongkrong hingga larut malam dengan makanan yang penuh gula dan garam telah berkembang menjadi kebiasaan. Jika mahasiswa mencoba menjalani pola hidup yang sehat di lingkungan yang tidak sesuai, norma sosial tidak mendorong pola hidup aktif, atau kebiasaan sehat bahkan dapat membuat mereka merasa terasing.


Pola hidup mahasiswa sangat dipengaruhi oleh dukungan sekolah. Sayangnya, fasilitas kesehatan masih kurang di banyak kampus. Sulit bagi mahasiswa untuk menerapkan pola hidup yang sehat secara konsisten. Ini karena mereka tidak memiliki akses ke fasilitas olahraga, tidak ada kantin sehat dengan makanan sehat, dan tidak ada konseling. Salah satu hambatan terbesar bagi kesejahteraan mahasiswa adalah kurangnya dukungan struktural dari kampus, baik dari segi infrastruktur maupun kebijakan. Padahal, institusi memainkan peran strategis terhadap penciptaan lingkungan yang memperhatikan kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan. (Galih Dipta, Sari Permata Ningsing, 2025)


Secara keseluruhan, sebagian besar mahasiswa menjalani pola hidup buruk. Mahasiswa sangat rentan terhadap kebiasaan hidup yang buruk karena tekanan akademik, manajemen waktu yang buruk, kurangnya kesadaran kesehatan, pengaruh sosial yang buruk, dan kurangnya dukungan institusional. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan tindakan yang luas yang mencakup perbaikan pola hidup setiap orang, menyediakan lingkungan kampus yang mendukung, dan memberikan pendidikan berkelanjutan tentang pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.


Peran Mahasiswa dan Institusi Pendidikan


Masyarakat akademik menghargai mahasiswa yang tidak hanya harus berprestasi akademik tetapi juga menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental. Institusi pendidikan, di mana mahasiswa memperoleh pengetahuan juga berperan besar dalam menciptakan pola yang mendorong pola hidup yang sehat. Kesadaran individu mahasiswa juga dukungan institusi pendidikan bekerja sama untuk menciptakan pola hidupyang lebih baik dan berkelanjutan.


Pertama, mahasiswa harus diposisikan sebagai subjek aktif dalam perubahan pola hidup mereka. Artinya, mereka bukan hanya menerima informasi, tetapi juga melakukan perubahan dengan menyadari pentingnya kesehatan. Untuk mencapainya, diperlukan pendidikan yang berkelanjutan tentang manfaat olahraga secara rutin, tidur waktu yang cukup, dan konsumsi makanan yang sehat. Pendidikan ini dapat disampaikan dengan berbagai cara, seperti kurikulum yang memasukkan elemen pola hidup yang sehat dan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung. (Rohmah et al., 2020) Hal tersebut seperti seminar tematik, workshop interaktif, dan kampanye kesehatan bisa menjadi metode yang baik untuk meningkatnya kesadaran mahasiswa tentang pentingnya pola hidupsehat.

 

Tabel 2. Strategi Intervensi Kampus untuk Mendorong Pola Hidup yang Sehat

Intervensi Kampus

Manfaat

Menyediakan kantin sehat

Memperbaiki asupan gizi mahasiswa

Membangun pusat kebugaran

Mendorong aktivitas fisik teratur

Workshop manajemen stres dan waktu

Mengurangi tekanan mental dan meningkatkan fokus

Aplikasi pemantauan pola hidup mahasiswa

Membantu mahasiswa memantau kesehatan harian

 

Namun, sumber daya dan infrastruktur yang memadai diperlukan untuk mendukung pendidikan. Sekolah memiliki kewajiban moral dan struktural untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa menjalani pola hidup yang sehat. Misalnya, menyediakan lapangan olahraga, ruang olahraga, jalur jogging, dan area hijau akan membuat lebih mudah bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Selain itu, keberadaan kantin di kampus yang menawarkan makanan sehat dan murah merupakan faktor penting dalam menciptakan kebiasaan makan yang lebih baik. Kemampuan untuk mendapatkan akses ke fasilitas-fasilitas ini dapat meningkatkan keinginan mahasiswa untuk menjaga kesehatan secara lebih teratur. (Bailey et al., 2020)


Kesehatan mental mahasiswa juga merupakan elemen penting yang sering diabaikan. Penting bagi lembaga pendidikan untuk menyediakan layanan bimbingan konseling yang mudah diakses, ramah, dan bebas stigma di tengah kehidupan kampus yang penuh tekanan akademik dan sosial. Banyak mahasiswa menolak berkonsultasi dengan konselor karena khawatir mereka akan dianggap lemah atau malu. Oleh karena itu, upaya normalisasi dan penghapusan stigma kesehatan mental harus diiringi dengan penyediaan konseling. Aksesibilitas dan pendekatan konseling yang empatik sangat membantu mahasiswa mengatasi kecemasan, stres, dan masalah psikologis lainnya. (Cerolini et al., 2023)


Peran komunitas mahasiswa lebih penting daripada institusi dan individu. Organisasi atau komunitas mahasiswa yang berfokus pada mendorong pola hidup yang sehat dapat membangun lingkungan sosial yang baik serta saling support. (Ahorsu et al., 2021) Dorongan kolektif dan contoh yang baik dari teman sebaya membuat mahasiswa merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk mengikuti kebiasaan hidup sehat di tempat seperti ini. Komunitas sosial dan emosional yang sehat mendorong interaksi yang lebih bermakna dan meningkatkan komitmen mahasiswa terhadap pola hidup yang positif.


Secara keseluruhan, institusi pendidikan dan mahasiswa sangat berperan dalam menciptakan pola hidup yang sehat. Meskipun mahasiswa harus tahu dan bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, institusi juga harus membuat lingkungan yang mendukung untuk mendukungnya. Diharapkan mahasiswa dapat menjalani kehidupan kampus yang seimbang, produktif, dan sehat jika ada sinergi antara pendidikan, fasilitas, layanan pendukung, dan komunitas yang sehat.


PENUTUP

Kesimpulan


Pola hidup yang buruk pada mahasiswa merupakan isu kompleks yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus menyadari bahwa kesehatan merupakan fondasi utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam mencapai keberhasilan akademik dan sosial. Kebiasaan buruk seperti konsumsi makanan tidak bergizi, kurang tidur, tidak berolahraga, serta stres yang tidak dikelola dengan baik, bila terus dibiarkan akan berdampak negatif seperti bom waktu yang bukan hanya waktu jangka pendek, tetapi juga waktu jangka panjang.


Oleh karenanya, solusi terhadap permasalahan ini tidak bisa bersifat sementara atau parsial. Diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan mahasiswa itu sendiri, institusi pendidikan, keluarga, masyarakat, serta dukungan kebijakan dari pemerintah. Pendidikan kesehatan harus ditanamkan sejak dini dan dikemas dengan cara yang menarik serta relevan dengan kehidupan mahasiswa. Kampus sebagai rumah kedua bagi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menyediakan fasilitas, layanan, serta kebijakan yang menunjang penerapan pola hidup yang sehat.


Lebih dari itu, penting untuk membangun budaya hidup sehat sebagai norma sosial di lingkungan akademik. Jika pola hidup yang sehat menjadi bagian dari identitas mahasiswa, maka perubahan positif akan berlangsung secara berkelanjutan dan menular ke lingkungan yang lebih luas. Dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang bugar, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi secara optimal dalam pembangunan bangsa. Investasi pada kesehatan mahasiswa hari ini bukan hanya menyelamatkan individu dari risiko penyakit, tetapi juga menciptakan generasi yang unggul, berdaya saing, dan memiliki kualitas hidup yang tinggi. Oleh karena itu, upaya kolektif dan berkelanjutan dalam mengedukasi, memfasilitasi, dan membudayakan pola hidup yang sehat harus menjadi prioritas bersama.


Saran


Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental adalah langkah pertama menuju perubahan pola hidup mahasiswa yang buruk. Diharapkan bahwa mahasiswa dapat mengatur jadwal harian yang seimbang antara belajar, istirahat, makan, dan berolahraga. Sekolah juga harus menyediakan sarana untuk mendukung pola hidup yang sehat dan aktif, seperti kantin sehat, ruang olahraga, dan taman (Saintila et al., 2024). Selain itu, untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih luas, pemerintah dan lembaga terkait harus membuat program nasional yang berfokus pada kesehatan remaja dan mahasiswa secara berkelanjutan.


Salah satu cara inovatif untuk membantu mahasiswa memantau diet, aktivitas fisik, dan jam tidur mereka sendiri adalah dengan membuat aplikasi digital berbasis edukasi kesehatan. Tidak kalah penting, penelitian lanjutan tentang manfaat intervensi berbasis kampus harus terus dilakukan sebagai dasar untuk pembuatan kebijakan kesehatan di pendidikan tinggi (Galih Dipta, Sari Permata Ningsing, 2025).


DAFTAR PUSTAKA

 

Ahorsu, D. K., Sánchez Vidaña, D. I., Lipardo, D., Shah, P. B., Cruz González, P., Shende, S., Gurung, S., Venkatesan, H., Duongthipthewa, A., Ansari, T. Q., & Schoeb, V. (2021). Effect of a peer‐led intervention combining mental health promotion with coping‐strategy‐based workshops on mental health awareness, help‐seeking behavior, and wellbeing among university students in Hong Kong. International Journal of Mental Health Systems, 15(1), 1–10. https://doi.org/10.1186/s13033-020-00432-0

Aldi, M., Alotaibi, A., & Alsaadi, B. (2023). Perceived Stress among Healthcare Students and Its Association with Anxiety and Depression: A Cross-Sectional Study in Saudi Arabia. Healthcare (Switzerland), 11(11). https://doi.org/10.3390/healthcare11111625

Anuar, A., Hussin, N. Z. M. H. @, Maon, S. N., Hassan, N. M., Abdullah, M. Z., Mohd, I. H., & Sahudin, Z. (2021). Physical Inactivity among University Students. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 11(5). https://doi.org/10.6007/ijarbss/v11-i5/9934

Bailey, C. P., Sharma, S., Economos, C. D., Hennessy, E., Simon, C., & Hatfield, D. P. (2020). College campuses’ influence on student weight and related behaviours: A review of observational and intervention research. Obesity Science and Practice, 6(6), 694–707. https://doi.org/10.1002/osp4.445

Caamaño-Navarrete, F., Saavedra-Vallejos, E., Guzmán-Guzmán, I. P., Arriagada-Hernández, C., Fuentes-Vilugrón, G., Jara-Tomckowiack, L., Lagos-Hernández, R., Fuentes-Merino, P., Alvarez, C., & Delgado-Floody, P. (2024). Unhealthy Lifestyle Contributes to Negative Mental Health and Poor Quality of Life in Young University Students. Healthcare (Switzerland), 12(22), 1–14. https://doi.org/10.3390/healthcare12222213

Cerolini, S., Zagaria, A., Franchini, C., Maniaci, V. G., Fortunato, A., Petrocchi, C., Speranza, A. M., & Lombardo, C. (2023). Psychological Counseling among University Students Worldwide: A Systematic Review. European Journal of Investigation in Health, Psychology and Education, 13(9), 1831–1849. https://doi.org/10.3390/ejihpe13090133

Fita Kumala, K. A. (2018). Orderliness predicts academic performance: Behavioural analysis on campus lifestyle. Journal of the Royal Society Interface, 15(146). https://doi.org/10.1098/rsif.2018.0210

Galih Dipta, Sari Permata Ningsing, K. A. (2025). Student Satisfaction with University Facilities and Services and its Impact on Academic Performance: A Study in Higher Education. 1–19. https://www.researchsquare.com/article/rs-6359552/v1

Permatasari, S. (2017). Alloimmunization in thalassemia patients: New insight for healthcare. International Journal of Preventive Medicine, 8. https://doi.org/10.4103/ijpvm.IJPVM

Rahman, D. (2023). Analisis pola hidup yang sehat mahasiswa olahraga. Jurnal Patriot, 5(3), 239–246. https://doi.org/10.24036/patriot.v5i3.1018

Ramadianto, A. S., Kusumadewi, I., Agiananda, F., & Raharjanti, N. W. (2022). Symptoms of depression and anxiety in Indonesian medical students: association with coping strategy and resilience. BMC Psychiatry, 22(1), 1–11. https://doi.org/10.1186/s12888-022-03745-1

Rohmah, R. A., Pa Padja, R. N., Dali, I. R., Liki, R., & Dangga, V. (2020). Campaign for Healthy Eating and Physical Activity as Implementation of Health Promoting University. Berita Kedokteran Masyarakat, 36(1), 9–15.

Saintila, J., Calizaya-Milla, Y. E., Carranza-Cubas, S. P., Serpa-Barrientos, A., Oblitas-Guerrero, S. M., & Ramos-Vera, C. (2024). Body mass index and healthy lifestyle practices among Peruvian university students: a comparative study among academic discipline. Frontiers in Nutrition, 11(February), 1–13. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1361394

Shao, T., Verma, H. K., Pande, B., Costanzo, V., Ye, W., Cai, Y., & Bhaskar, L. V. K. S. (2021). Physical Activity and Nutritional Influence on Immune Function: An Important Strategy to Improve Immunity and Health Status. Frontiers in Physiology, 12(October). https://doi.org/10.3389/fphys.2021.751374

Sitorus, N. (2021). Pola hidup yang sehat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Bandung. Jurnal Ilmu Kesehatan Immanuel, 14(2), 55–62. https://doi.org/10.36051/jiki.v14i2.129

Yadav, R., Khapre, M., D, D., & M, A. (2024). Prevalence of Unhealthy Lifestyles and Its Correlates Among College-Going Students in Rishikesh, India: A Cross-Sectional Study. Cureus, 16(7). https://doi.org/10.7759/cureus.64713

Zhang, Y. (2025). Impact of dietary habit changes on college students physical health insights from a comprehensive study. Scientific Reports, 15(1), 1–15. https://doi.org/10.1038/s41598-025-94439-7

***

*) Oleh: Fitria Noviani, Mahasiswi Farmasi Universitas Islam Indonesia.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi segapmedia.online.

***

**) Rubrik artikel di SEGAPMedia .Online terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi.segapmedia@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk tulis kesanmu setelah membaca tulisan di atas. Masukan, kritik, dan saran. Terima kasih. Salam literasi.