Oleh: Ramli Lahaping*
“Makanlah
sepuasnya,” tawar Suman, beberapa jam yang lalu, saat ia tiba-tiba mengajakku untuk
bersantap di sebuah rumah makan yang mewah.
Aku
pun merasa senang. “Baiklah,” tanggapku, kemudian memesan menu ayam panggang
dan jus jeruk.
Ia
lantas mengerutkan dahinya. Seperti tak habis pikir. “Itu saja?”
Aku
pun mengangguk.
Ia
sontak berdecak-decak. “Ah, pesanlah banyak-banyak!”
Seketika,
keenggananku sirna. “Oke. Kau yang memaksa,” kataku, setengah bercanda, lalu menambah
pesanan dengan ayam bakar, ikan goreng, dan cumi-cumi tumis. Aku bahkan memesan
tiga porsi menu ayam goreng untuk kubawa pulang ke rumahku.
Suman
pun tertawa senang, seolah-olah aku telah berhasil mewujudkan keinginannya. “Begitu,
dong. Jangan canggung-canggung. Apalagi, hari ini, kau telah bekerja dengan
sangat baik. Aku merasa beruntung berpartner denganmu,” tuturnya, menyinggung
kekompakan kami sebagai sesama buruh bangunan yang senantiasa bekerja sama. “Anggap
saja ini sebagai ungkapan terima kasihku kepadamu.”
Aku
lantas mendengkus dan tertawa pendek. Sejenak kemudian, aku kembali memancing
basa-basi dengan mempertanyakan kemurahan hatinya, “Apa benar kau tak keberatan
dengan tagihan makananku yang banyak?”
Ia
sontak tergelak, seakan-akan aku telah merendahkannya. “Ya. Tentu saja. Aku
benar-benar ikhlas. Kalau kau mau tambah lagi, aku pun tak keberatan. Asalkan,
seperti yang kuminta, kau harus mendapatkan nomor telepon si cantik itu
untukku,” katanya, setengah berbisik, dengan raut nakal, menyinggung tentang
seorang janda beranak satu yang tinggal tak jauh dari rumahku.
Aku
pun tertawa mendengkus menyaksikan raut kasmarannya.
Tetapi
sebenarnya, permintaan Suman itu bukanlah sesuatu yang tercela dan terlarang. Itu
karena ia sendiri adalah seorang duda yang telah ditinggal mati istrinya. Apalagi,
aku yakin bahwa ia benar-benar ingin membangun hubungan yang serius dengan janda
itu. Ia bahkan senantiasa menuturkan kepadaku kalau ia akan menikahi sang janda
satu hari nanti.
Belum
lagi, Suman tak akan berani-berani mempermain janda itu. Ia tak akan lancang menggaet
sang janda untuk sekadar bersenang-senang di lingkungan desa. Itu karena kami
dipimpin oleh seorang kepala desa bernama Karim, yang alim dan sangat menentang
kedekatan lawan jenis tanpa ikatan yang suci. Sang kepala desa bahkan telah
tiga kali menikahkan pasangan remaja setelah kedapatan berdua-duaan di dalam ruangan
yang tertutup.
Sejenak
berselang, sembari menunggu makanan datang, aku kembali memancing perbincangan
dengan kembali menyinggung sikap royalnya, “Tetapi kupikir-pikir, daripada kau
menguras uangmu untuk mentraktirku dan berfoya-foya, besok-besok, ada baiknya
kau mulai menabung untuk ongkos menikahmu kelak.”
Seketika,
ia mendengkus risih, seolah-olah aku telah salah memberi nasihat. “Kan sudah
kukatakan kepadamu, kalau ongkos makan kita kali ini, disponsori oleh adikku
yang bekerja di kota, di ruang ber-AC. Nah, karena aku bersyukur mendapatkan
rezeki nomplok, aku pun berbagi kebahagiaan denganmu.”
Aku
lantas mengangguk-angguk saja, dan berhenti mempersoalkan kemurahan hatinya.
Sesaat
kemudian, pesanan kami akhirnya tersaji lengkap di atas meja. Kami pun
bersantap senang, dan tak pagi membahas masalah apa-apa selain berseru-seru
keenakan.
Satu
jam lebih berlalu. Saat hari menjelang sore, kami lantas pulang dengan perut
yang buncit, sembari membawa beberapa menu kotakan untuk orang di rumah kami
masing-masing. Pada sebuah persimpangan jalan, kami kemudian berpisah setelah
sepeda motor kami menjejaki jalur yang berbeda, yang mengarah ke kediaman kami
masing-masing.
Sampai
akhirnya, di ujung perjalanan pulang, aku berhenti setelah melihat kerumunan
warga yang riuh. Aku lantas menanyakan perihalnya pada beberapa orang, hingga aku
tahu bahwa seorang lelaki telah kedapatan mencuri di sebuah rumah. Sang pencuri
pun dihakimi dengan pukulan dan tendangan oleh para warga yang tampak semakin
beringas.
Tak
lama kemudian, dua orang polisi datang. Keduanya lantas menyeruak di tengah kerumunan
massa, sembari melontarkan kata peringatan agar mereka berhenti bertindak
semena-mena. Dalam sekejap, keduanya pun berhasil menggapai sang pencuri dan
segera menggelandangnya ke dalam mobil patroli. Keduanya lantas pergi, sembari
membawa sang pencuri yang tampak lebam dan berdarah.
Seketika,
terjadilah perbincangan di antara para warga yang telah kehilangan mangsa.
Mereka menanyai sang pemilik rumah yang nyaris jadi korban pencurian, perihal
siapa sesungguhnya sang pencuri yang tampak dikenalnya. Hingga akhirnya, berdasarkan
penuturan sang pemilik rumah, mereka dan aku pun tahu bahwa sang pencuri tak
lain adalah seorang tukang ojek yang sehari sebelumnya menjadi ojek
tumpangannya.
Lebih lanjut, sang pemilik rumah kemudian menceritakan bahwa selepas pengantaran itu, ia dan sang tukang ojek telah terlibat percekcokan. Itu karena tiba-tiba saja, sang tukang ojek kehilangan dompet dan lekas menuduhnya sebagai pencuri. Ia sontak membantah dengan tegas, tetapi sang tukang ojek tetap meminta dompetnya dikembalikan demi membeli bahan makanan pokok yang mendesak.
*Penulis lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu.
Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di
sejumlah media daring. Bisa dihubungi
melalui Instagram (@ramlilahaping).
(red/segapmedia.online)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Yuk tulis kesanmu setelah membaca tulisan di atas. Masukan, kritik, dan saran. Terima kasih. Salam literasi.