Uang Makan (Part 1) - SEGAP Media .Online | Students Media for Indonesia

Breaking

SEGAP Media .Online | Students Media for Indonesia

Media Pers, Penerbit Buku, & Berbagai Layanan


Jumat, 08 Oktober 2021

Uang Makan (Part 1)

 


Oleh: Ramli Lahaping*


“Makanlah sepuasnya,” tawar Suman, beberapa jam yang lalu, saat ia tiba-tiba mengajakku untuk bersantap di sebuah rumah makan yang mewah.


Aku pun merasa senang. “Baiklah,” tanggapku, kemudian memesan menu ayam panggang dan jus jeruk.


Ia lantas mengerutkan dahinya. Seperti tak habis pikir. “Itu saja?”


Aku pun mengangguk.


Ia sontak berdecak-decak. “Ah, pesanlah banyak-banyak!”


Seketika, keenggananku sirna. “Oke. Kau yang memaksa,” kataku, setengah bercanda, lalu menambah pesanan dengan ayam bakar, ikan goreng, dan cumi-cumi tumis. Aku bahkan memesan tiga porsi menu ayam goreng untuk kubawa pulang ke rumahku.


Suman pun tertawa senang, seolah-olah aku telah berhasil mewujudkan keinginannya. “Begitu, dong. Jangan canggung-canggung. Apalagi, hari ini, kau telah bekerja dengan sangat baik. Aku merasa beruntung berpartner denganmu,” tuturnya, menyinggung kekompakan kami sebagai sesama buruh bangunan yang senantiasa bekerja sama. “Anggap saja ini sebagai ungkapan terima kasihku kepadamu.”


Aku lantas mendengkus dan tertawa pendek. Sejenak kemudian, aku kembali memancing basa-basi dengan mempertanyakan kemurahan hatinya, “Apa benar kau tak keberatan dengan tagihan makananku yang banyak?”


Ia sontak tergelak, seakan-akan aku telah merendahkannya. “Ya. Tentu saja. Aku benar-benar ikhlas. Kalau kau mau tambah lagi, aku pun tak keberatan. Asalkan, seperti yang kuminta, kau harus mendapatkan nomor telepon si cantik itu untukku,” katanya, setengah berbisik, dengan raut nakal, menyinggung tentang seorang janda beranak satu yang tinggal tak jauh dari rumahku.


Aku pun tertawa mendengkus menyaksikan raut kasmarannya.


Tetapi sebenarnya, permintaan Suman itu bukanlah sesuatu yang tercela dan terlarang. Itu karena ia sendiri adalah seorang duda yang telah ditinggal mati istrinya. Apalagi, aku yakin bahwa ia benar-benar ingin membangun hubungan yang serius dengan janda itu. Ia bahkan senantiasa menuturkan kepadaku kalau ia akan menikahi sang janda satu hari nanti.


Belum lagi, Suman tak akan berani-berani mempermain janda itu. Ia tak akan lancang menggaet sang janda untuk sekadar bersenang-senang di lingkungan desa. Itu karena kami dipimpin oleh seorang kepala desa bernama Karim, yang alim dan sangat menentang kedekatan lawan jenis tanpa ikatan yang suci. Sang kepala desa bahkan telah tiga kali menikahkan pasangan remaja setelah kedapatan berdua-duaan di dalam ruangan yang tertutup.  


Sejenak berselang, sembari menunggu makanan datang, aku kembali memancing perbincangan dengan kembali menyinggung sikap royalnya, “Tetapi kupikir-pikir, daripada kau menguras uangmu untuk mentraktirku dan berfoya-foya, besok-besok, ada baiknya kau mulai menabung untuk ongkos menikahmu kelak.”


Seketika, ia mendengkus risih, seolah-olah aku telah salah memberi nasihat. “Kan sudah kukatakan kepadamu, kalau ongkos makan kita kali ini, disponsori oleh adikku yang bekerja di kota, di ruang ber-AC. Nah, karena aku bersyukur mendapatkan rezeki nomplok, aku pun berbagi kebahagiaan denganmu.”


Aku lantas mengangguk-angguk saja, dan berhenti mempersoalkan kemurahan hatinya.


Sesaat kemudian, pesanan kami akhirnya tersaji lengkap di atas meja. Kami pun bersantap senang, dan tak pagi membahas masalah apa-apa selain berseru-seru keenakan.


Satu jam lebih berlalu. Saat hari menjelang sore, kami lantas pulang dengan perut yang buncit, sembari membawa beberapa menu kotakan untuk orang di rumah kami masing-masing. Pada sebuah persimpangan jalan, kami kemudian berpisah setelah sepeda motor kami menjejaki jalur yang berbeda, yang mengarah ke kediaman kami masing-masing.


Sampai akhirnya, di ujung perjalanan pulang, aku berhenti setelah melihat kerumunan warga yang riuh. Aku lantas menanyakan perihalnya pada beberapa orang, hingga aku tahu bahwa seorang lelaki telah kedapatan mencuri di sebuah rumah. Sang pencuri pun dihakimi dengan pukulan dan tendangan oleh para warga yang tampak semakin beringas.


Tak lama kemudian, dua orang polisi datang. Keduanya lantas menyeruak di tengah kerumunan massa, sembari melontarkan kata peringatan agar mereka berhenti bertindak semena-mena. Dalam sekejap, keduanya pun berhasil menggapai sang pencuri dan segera menggelandangnya ke dalam mobil patroli. Keduanya lantas pergi, sembari membawa sang pencuri yang tampak lebam dan berdarah.


Seketika, terjadilah perbincangan di antara para warga yang telah kehilangan mangsa. Mereka menanyai sang pemilik rumah yang nyaris jadi korban pencurian, perihal siapa sesungguhnya sang pencuri yang tampak dikenalnya. Hingga akhirnya, berdasarkan penuturan sang pemilik rumah, mereka dan aku pun tahu bahwa sang pencuri tak lain adalah seorang tukang ojek yang sehari sebelumnya menjadi ojek tumpangannya.


Lebih lanjut, sang pemilik rumah kemudian menceritakan bahwa selepas pengantaran itu, ia dan sang tukang ojek telah terlibat percekcokan. Itu karena tiba-tiba saja, sang tukang ojek kehilangan dompet dan lekas menuduhnya sebagai pencuri. Ia sontak membantah dengan tegas, tetapi sang tukang ojek tetap meminta dompetnya dikembalikan demi membeli bahan makanan pokok yang mendesak.


*Penulis lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).


(red/segapmedia.online)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk tulis kesanmu setelah membaca tulisan di atas. Masukan, kritik, dan saran. Terima kasih. Salam literasi.