America Latin: Tetangga Jauh yang Terlupakan - SEGAP Media .Online | Students Media for Indonesia

Breaking

SEGAP Media .Online | Students Media for Indonesia

Media Pers, Penerbit Buku, & Berbagai Layanan


Rabu, 24 November 2021

America Latin: Tetangga Jauh yang Terlupakan

 

Oleh: Kemal al-Kautsar Mabruri

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia


Amerika selatan atau yang sering dikenal dengan sebutan Amerika latin merupakan salah satu kawasan atau sekumpulan negara yang jika dilihat dari posisi geografis Indonesia terletak disebelah barat dibawah Amerika utara. Sematan Amerika latin didapatkan oleh kawasan ini karena sebagaian besar penduduknya merupakan penutur asli Bahasa-bahasa Roman yang berasal dari Bahasa latin.


Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Amerika latin dapat dikatakan cukup dekat, hubungan politik yang erat antara Soekarno dan beberapa pemimpin di Amerika latin seperti Che Guevera dan Fidel Castro dari Kuba. Meskipun begitu, sangat disayangkan hubungan erat tersebut hanya dalam sektor politik saja, padahal diharapkan dapat meluas ke sektor ekonomi.


Kemudian setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto seketika hubungan erat politik Indonesia dengan beberapa negara di kawasan Amerika latin secara umum menjadi renggang dikarenakan bedanya haluan yang dianut kedua pemimpin negara tersebut, Indonesia pada zaman Soeharto memiliki corak kepemimpinan yang cenderung kapitalis-demokrasi sedangkan rata-rata dari negara di kawasan Amerika latin sangat membenci kapitalis dan kuat akan doktrin sosialisnya. Keadaan renggang ini berlangsung cukup lama walaupun sudah berganti beberapa periode presiden di Indonesia dikarenakan tidak masuknya Amerika latin sebagai mitra prioritas dalam kerja sama.


Potensi Kerja Sama dengan Negara di Amerika Latin

Sampai saat ini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Amerika Latin baru berjumlah 10 dari total 20 negara di kawasan tersebut, tersebar dari Bogota, ibukota Colombia sampai di Buenos Aires, ibukota Argentina. Ini merupakan pencapaian yang tentunya harus kita apresiasi bersama, mengingat bahwa angka tersebut sudah setangah dari jumlah total.


Namun, meskipun perkembangan KBRI di kawasan Amerika latin sudah lebih banyak berkembang dari dekade sebelumnya, hal tersebut belum banyak menunjukkan hasil yang signifikan. Pemerintah Indonesia harus lebih kuat dan gencar lagi dalam mempromosikan dan mengenalkan Indonesia kepada Amerika latin dan menjadikan kawasan tersebut salah satu prioritas dalam kerja sama dan negosiasi. Mengapa hal tersebut perlu? Karena banyak sekali potensi yang sayang sekali jika tidak dikembangkan dan dimanafaatkan oleh pemerintah Indonesia, salah satu sektor yang kemudian tidak boleh dilupakan adalah ekonomi.


Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa hubungan diplomatik Indonesia dengan negara di Amerika latin telah berlangsung lama, selain itu Indonesia juga memiliki keterikatan kerja sama ekonomi melalui forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC) hingga passific alliance. Meski demikian, lagi intensitas didalamnya belum dapat dimanfaatkkan oleh Indonesia. Hal tersebut tercermin dari jarangnya investasi yang masuk dari Amerika latin ke Indonesia pun sebaliknya jika dibandingkan dengan negara investasi mitra yang datang dari negara di kawasan Asia, Afrika, dan Eropa.


Pada masa pemerintahan presiden Jokowi saat ini, sinyal baik kerja sama era baru sudah cukup Nampak lagi, dalam seminar Forum Kebijakan Luar Negeri bertajuk “Pengembangan Hubungan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia-Mercosur: Perspektif Ekonomi Politik Internasional” yang diselenggarakan oleh Institute of International Studies (IIS) UGM dan Sociadad Indonesia Para America Latina (SIpAL) FISIPOL UGM, bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia, Kepala Subdirektorat III Direktorat KSIA Amerika dan Eropa Kemenlu, Virdiana Ririen Hapsari mengatakan bahwasanya Amerika latin menjadi salah satu sasaran pelaksanaan diplomasi ekonomi Indonesia, hal tersebut juga diperkuat dengan arahan presiden Jokowi untuk membuka keran ekspor ke pasar atau negara non-tradisional, dan Amerika latin merupakan salah satunya.


Saat ini, kawasan Amerika latin sedang menikmati bonus demografi, dengan total jumlah penduduk saat ini 541 juta, seperempat populasinya atau sekitar 163 juta penduduknya adalah kaum muda berusia 15-29 tahun. Seperti halnya Indonesia, keunggulan tersebut menjadi driving force kawasan, khusunya pada sektor-sektor industri kreatif maupun UKM.


Pada Oktober 2021 lalu, Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Indonesia membuka forum bisnis digital Indonesia-Amerika Latin dan Karibia (INA-LAC 2021) secara virtual. Dalam sambutannya beliau menngatakan bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dan kawasan Amerika latin serta Karibia mengalami tren positif, pada tahun 2020 nilai peerdagangan menembus USD 8,25 Miliar atau setara dengan Rp 116,8 triliun. Menurutnya anga tersebut naik 6,45% dari tahun 2019 yang hanya menghasilkan USD 7,75 miliar. Ia juga menambahkan bahwasanya momen ini harus dimanfaatkan sebagai upaya Indonesia dan negara-negara di kawasan Amerika latin untuk bangkit dari keterpurukan semenjak Covid-19 menyerang dunia.


Tantangan dan Hambatan 

Menurut Plt Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah bahwa jarak secara geografis yang menjadi hambatan terbesar bagi berlangsungnya kerja sama antara Indonesia dan negara di kawasan Amerika latin.


Maka rasanya tidak terlalu berlebihan jika kemudian disebut tetangga jauh. Sebagai informasi tambahan juga bahwa jika kita terbang dari Indonesia menggunakan pesawat ke kawasan Amerika latin akan menghabiskan waktu setidaknya 20 jam. 

Selain itu, menurut Virdiana Ririen Hapsari, Kepala Subdirektorat III Direktorat KSIA Amerika dan Eropa menyebutkan bahwa Bahasa pun menjadi hambatan dan tantangan dalam mengeratkan kerja sama antara Indonesia dan negara di kawasan Amerika latin. Sehingga karena hal tersebut, Indonesia sudah seharusnya mulai berbenah dan mempersiapkan diri untuk lebih banyak melakukan komunikasi dan pendekatan dalam bentuk konektivitas sosial budaya, konektivitas people-to-people, serta konektivitas media.


Menanggapi hal tersebut, maka sudah selayaknya pemerintah membuat strategi dan kebijakan yang cakap agar kendala yang dapat diubah dikemudian hari dapat memberikan hasil yang maksimal sesuai keinginan dan harapan yang dituju, yakni kerja sama yang intensif. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk tulis kesanmu setelah membaca tulisan di atas. Masukan, kritik, dan saran. Terima kasih. Salam literasi.